RSS

Judgment Day

04 May

Judul postnya lebay bangat yašŸ˜€

Anyway hari ini saya terima beberapa email yang sedikit menginspirasi
Berikut ceritanyašŸ˜€ :

Waktu itu aku sedang naik KRL jurusan Jakarta-Bogor. Tujuanku ke Kalibata Mall. Saat turun di stasiun Kalibata. Kebetulan juga kereta dari arah Bogoryang akan ke Jakarta juga berhenti disitu. Aku pun bergegas menuju jalan keluar dari stasiun. Baru beberapa meter beranjak, terdengar suara ribut-ribut. Orang-orang berteriak. copet….copet. ..copet.

Akupun memutar badan melihat apa yang terjadi. Tampak seorang setengah baya berlari menerobos kerumunan orang yang turun dari kereta arah Jakarta. Kontan saja teriakan itu mengundang banyak orang yang baru turun maupun yang akan naik kereta mengejar dan mengepung orang tersebut.

Rupanya orang yang diduga pencopet itu sudah mulai terkepung oleh orang-orang yang berkumpul menjadi massa. Dengan mata nanar bingung dan ketakutan yang amat sangat, satu persatu batu-batu rel kereta mulai melayang ke arah tubuhnya. Sesekali tendangan mendarat telak di dada dan perutnya. Namun orang itu masih kuat menahan berat tubuhnya untuk tidak jatuh limbung. Dengan sisa-sisa tenaganya ia coba lari menyelamtkan diri dari amukan massa yang sudah mulai kesetanan.

“Biarin aja, gue minta kupingnya!” teriak seorang ibu agak gemuk yang ternyata penjual the botol keliling. “Matiiiiiin aja, biar kapok!” demikian massa bersahutan. Tak lama kemudian orang itu sudah dibawa oleh Polisi Kereta Api [Posuska] kedalam ruang stasiun Kalibata. Namun usaha itu tidak membuat massa tenang. “Alah paling-paling juga ntar dilepas lagi kalau diserahin polisi, udah matiin aja” demikian celetuk salah seorang yang kelihatannya pernah kecopetan dengan penuh dendam.

Aku terus mengikuti drama penyiksaan demi penyiksaan terhadap lelaki setengah baya itu. Di dalam ruang stasiun aku melihat bukannya dia tambah aman tapi malah makin parah. Polisi KA itu malah kelihatan lebih sadis dari massa. Aku nggak tahu apa perilaku itu hanya untuk melegakan massa akan ambisinya menghabisi orang yang diduga pencopet itu. “Ampun pak saya bukan copet, saya pedagang pak!” kilah lelaki itu mengiba. Namun semakin dia mengiba dengan kata-kata yang dianggap menyangkal perbuatannya, maka tendangan- demi tendangan makin kerap mendarat di tubuh maupun kepalanya. Sementara massa makin bersorak kegirangan demi melihat buruannya sedikit-demi sedikit menghitung nafasnya yang tinggal satu dua.

Tak tahan dengan emosi yang membuncah, massa akhirnya berhasil menjebol pintu ruangan stasiun yang semula dijagain agar massa tak bisa masuk. Aku merasa kasihan melihat seorang manusia langsung dihakimi tanpa terbukti kesalahanya. Dengan merangseknya massa kedalam, aku melihat salah seorang memukul kepala lelaki malang itu dengan botol minuman. “Pyar….” Botol pecah berantakan seiring dengan itu darah menyembur keras dari sebelah biji matanya yang berantakan dan tubuhnya menggelepar kelojotan. Masih belum puas badan yang sudah tak berdaya itu diinjak-injak sampai keluar tainya. Setelah puas tubuh yang sudah tidak bernyawa itu ditinggalkan begitu saja. Lantas aku dengan perasaan miris, masuk ruangan membantu polisi [beneran] yang baru datang, namun terlambat untuk mengangkat tubuhnya masuk kedalam mobil polisi.

Tak lama kemudian seorang mahasiswi yang merasa kecopetan mendatangi polisi, dan mengatakan Maaf pak, dompet saya masih ada di tas, tadi saya lupa naruh saya piker ada di saku celana. Waktu ada tangan menyenggol saku celana saya, saya pikir copet. Soalnya saya dulu pernah kecopetan,” ujarnya polos tak tahu apa yang terjadi pada lelaki yang berlari-lari lalu diteriaki copet dan menemui ajalnya
tertelungkup di sudut ruangan stasiun Kalibata.

Based on true story : 24 September 2001, di stasiun Kalibata, pukul 4 sore lebih 36 menit.

Dari cerita ini rekan saya memberikan komentarnya :
Jangan maen hakim sendiri dan selalu lihat secara keseluruhan tentang situasi yang terjadi
-Sayudi Asmoro-

Setelah membaca cerita ini saya pun sedikit tersentil, karena mungkin kadang-kadang saya pribadi terkadang suka menjudge kurang baik terhadap seseorang/sesuatu hal tanpa mencari fakta dan sebab yang lengkap.
Well… semoga setelah ini saya bisa menjadi lebih bijaksana ketika menjudge atau menilai sesuatušŸ™‚

 
1 Comment

Posted by on May 4, 2011 in PersonalDevelopment

 

Tags: , ,

One response to “Judgment Day

  1. otonk joshi

    October 19, 2012 at 10:43 pm

    tega

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: